SMK KATOLIK SANTO MIKAEL
"Tiap Hari Latih Diri Pantang Mundur Terus Maju"

Home
KUNJUNGAN KE LONDON PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Monday, 14 November 2011 14:41

 

Tanggal 4-10 Oktober 2011, Romo Agus memenuhi undangan kunjungan ke London yang diadakan oleh Direktorat Sekolah Menengah Kejuruan. Kunjungan ini merupakan inisiatif dari Direktorat Sekolah Menengah Kejuruan. Jumlah total peserta yang ikut ada 350, meliputi pihak Diknas, Dikpora, maupun Kepala Sekolah RSBI. Seluruh peserta itu terbagi dalam 7 kelompok. SMK Mikael termasuk kelompok 2b yang berangkat tanggal 4 Oktober 2011. Pemerintah tampaknya ingin mengajak sekolah-sekolah yang sudah menyandang status RSBI untuk merasakan arti “internasional”. Oleh karena itu, yang dikunjungi pun merupakan negara yang sudah berkancah di tingkat internasional sehingga yang mengunjungi sungguh melek akan arti internasional.

Tujuan kunjungan ke London setidaknya ada dua. Pertama, mengunjungi World Skill Competition Tingkat Dunia. Kompetisi itu merupakan kompetisi seperti Lomba Ketrampilan Siswa yang telah dikelola secara internasional, baik peserta maupun cara pelaksanaannya (mesin, kisi-kisi, dan soalnya standar). Kedua, benchmarking sekolah kejuruan dengan satu sekolah kejuruan di Worchester. Sekolah tersebut dibiayai oleh pemerintah dan terdiri berbagai jejang pendidikan, mulai Pendidikan Usia Dini sampai Akademi. Diharapkan, dengan kunjungan ini, sekolah-sekolah yang menyandang status RSBI dapat mencari perbandingan dan kemungkinan pengembangan kerjasama dengan sekolah kejuruan yang ada di London.

Kunjungan tersebut memberikan pembelajaran bagi kita. Pertama, Bagaimana kita mengadakan sebuah lomba yang memenuhi kompetensi dunia industri, baik dari segi isi, cara, ukuran, maupun persyaratan. Kedua, bagaimana membangun sistem pendidikan yang teritegrasi. Yang menarik pula adalah keberhasilan Inggris dalam memadukan dua budaya yang berbeda dan sangat konsisten. Di satu pihak, ada budaya monarki atau kerajaan di mana Ratu sangat dihormati dan di lain pihak, diterapkan budaya modern dalam hal transportasi, sistem keuangan, dan sebagainya. Ternyata, dua hal itu tidak bertentangan. Justru semakin modern suatu bangsa ternyata tidak harus meninggalkan nilai-nilai “primordial”. Modernitas tidak selalu menghilangkan yang konservatif. Modernitas itu ternyata terkait dengan nuansa seni, kerapian, dan kemudahan. Semuanya diatur dengan indah, rapi, disiplin, dan dibuat terjangkau oleh semua orang. Selama perjalanan, terlihat bahwa Inggris merupakan negara maju. Mereka sudah maju sejak abad 17. Gedung-gedung sejak awal dibangun secara kuat dan dilestarikan sampai sekarang. Bangsa kita dapat belajar dari sana untuk memelihara sesuatu yang sudah baik.

Kunci dari terciptanya hal-hal baik yang ada di Inggris kemungkinan besar adalah dunia pendidikan. Ketika berkunjung di Worchester, yang disaksikan adalah presentasi dari guru Pendidikan Usia Dini. Saat itu, ia mempresentasikan bahan belajar di mana anak-anak diajari untuk memilih makanan yang bergizi dan mengelola penggunaan waktu untuk menuju kebiasaan efektif. Sejak usia dini, hal ini sudah diajarkan. Makanan bukan hanya memberi kekenyangan tetapi mempunyai nilai tambah bagi tubuh. Motto yang dipakai di sekolah itu adalah “Outstanding Learning for the Successful Future”. Salah buku yang ada di sana mengatakan bahwa hidup yang sukses harus didukung dengan latihan mengatur waktu, tujuan, kegiatan, jenis makanan yang dikonsumsi, dan sebagainya. Ada latihan untuk menjadi orang sukses.

Sebagai tindak lanjut atas kunjungan itu, kita akan merancang dan mengintegrasikan dengan yang telah kita lakukan. Pembinaan-pembinaan life skill perlu dikembangkan lebih lanjut. Ke depan, mungkin perlu dibuat panduan mutu untuk sekolah yang sukses. Selama ini, ukuran sukses kita adalah pekerjaan. Namun, perlu ditanamkan bahwa ukuran sukses kita harus lebih dari hanya pekerjaan saja. Ini sudah mulai kita lakukan. Kita sudah menambah nilai-nilai dasar kita dengan nilai-nilai yang lain. Conscience, Competence, dan Compassion sudah ditambah dengan kemampuan untuk memperoleh nilai tambah, yaitu Communicative, Cooperative, dan Commitment. Nilai-nilai itu masih dilengkapi dengan nilai-nilai pengembangan diri, yaitu Creativity, Capability, dan Caring.

Last Updated on Monday, 14 November 2011 14:43